Integrasi RFID pada Perpustakaan Digital Sekolah Binekas untuk Mendukung Literasi

Bandung — Perpustakaan sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi sejak dini. Namun, pada praktiknya, masih banyak sekolah dasar yang menghadapi tantangan dalam pengelolaan perpustakaan, mulai dari pencatatan koleksi buku, peminjaman, pengembalian, hingga pemantauan aktivitas membaca siswa. Permasalahan tersebut juga menjadi perhatian dalam pengembangan layanan perpustakaan di Sekolah Binekas, Kota Bandung.

Sebagai bentuk kontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Telkom melanjutkan pengembangan sistem perpustakaan digital di Sekolah Binekas melalui integrasi teknologi Radio Frequency Identification atau RFID. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari Dr. Surya Michrandi Nasution, S.T., M.T., Dr. Reza Rendian Septiawan, S.Si., M.Si., M.Sc., Angel Metanosa Afinda, S.Kom., M.Kom., Dr. Irwan, S.T., M.T., Diedrick Darrell Darmadi, Kenneth Matthew Yonathan, dan Kevin Radinka.

Pengembangan ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yang telah menghasilkan sistem perpustakaan digital berbasis web untuk membantu pengelolaan data buku, pengguna, kelas, serta transaksi peminjaman dan pengembalian. Pada tahap lanjutan ini, fokus utama kegiatan diarahkan pada penguatan fitur RFID agar layanan perpustakaan dapat berjalan lebih cepat, akurat, dan terdokumentasi. Adapun tahapan kegiatan pengabdian tersebut ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Tahapan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat.

Gambar 1. Tahapan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat.

Melalui tahapan tersebut, tim pengabdian memulai kegiatan dari evaluasi sistem yang telah dikembangkan sebelumnya, kemudian melanjutkan pada analisis kebutuhan RFID, perancangan integrasi fitur, implementasi, pengujian, hingga pendampingan kepada mitra. Pendekatan bertahap ini dilakukan agar sistem yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional perpustakaan sekolah dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pada tahap awal, tim terlebih dahulu melakukan identifikasi kondisi perpustakaan dan kebutuhan mitra melalui observasi langsung dan wawancara dengan pihak sekolah. Proses ini penting untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan, sekaligus menggali kebutuhan pengembangan yang paling relevan. Dokumentasi proses identifikasi dan analisis kebutuhan mitra tersebut ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Identifikasi dan Analisis Kebutuhan Mitra melalui Observasi dan Wawancara Langsung

Berdasarkan hasil analisis tersebut, pengembangan sistem kemudian difokuskan pada integrasi RFID. Teknologi ini memungkinkan setiap buku memiliki identitas digital berupa UID yang dapat dipindai menggunakan perangkat RFID reader. Dengan cara ini, proses identifikasi buku dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan pencatatan manual. Pengelola perpustakaan tidak lagi harus mencari data buku satu per satu, karena sistem dapat mengenali buku berdasarkan UID RFID yang telah terdaftar.

Integrasi RFID ini juga mendukung proses peminjaman dan pengembalian buku secara otomatis. Dalam penggunaannya, identitas siswa dapat dimasukkan melalui NISN atau kartu pelajar, sedangkan identitas buku diperoleh melalui pemindaian UID RFID. Setelah kedua data tersebut diproses, sistem akan menentukan apakah transaksi tersebut merupakan peminjaman atau pengembalian berdasarkan status data yang tersimpan. Apabila belum ada transaksi aktif, sistem akan mencatatnya sebagai peminjaman. Sebaliknya, jika buku tersebut sudah tercatat sedang dipinjam oleh siswa yang sama, sistem akan memprosesnya sebagai pengembalian.

Pengembangan ini diharapkan dapat membantu pustakawan dan pihak sekolah dalam mengelola perpustakaan secara lebih efisien, akurat, dan terdokumentasi. Selama ini, pencatatan transaksi perpustakaan yang dilakukan secara manual berpotensi menimbulkan kesalahan input, keterlambatan pencatatan, atau kesulitan dalam melacak status buku. Dengan adanya RFID, proses sirkulasi buku menjadi lebih sederhana dan data transaksi dapat tersimpan secara lebih rapi di dalam sistem.

Selain mempercepat layanan, sistem perpustakaan digital berbasis RFID juga menyediakan riwayat transaksi yang dapat digunakan untuk memantau aktivitas peminjaman dan pengembalian buku. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dalam melihat pemanfaatan koleksi perpustakaan, minat baca siswa, serta keteraturan proses pengembalian buku. Dengan demikian, sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai alat administrasi, tetapi juga sebagai pendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam pengelolaan literasi sekolah.

Kegiatan pengabdian ini juga menekankan aspek pendampingan kepada mitra. Pihak sekolah, khususnya pengelola perpustakaan, didampingi dalam memahami alur penggunaan sistem, mulai dari registrasi UID RFID pada buku, pemindaian data buku, pencatatan transaksi, hingga pemantauan riwayat peminjaman dan pengembalian. Pendampingan ini penting agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya berhenti sebagai produk, tetapi benar-benar dapat digunakan secara mandiri dan berkelanjutan oleh pihak sekolah.

Tahap akhir dari kegiatan ini adalah implementasi dan serah terima sistem kepada pihak sekolah sebagai bentuk komitmen bersama dalam pemanfaatan teknologi untuk mendukung layanan perpustakaan. Dokumentasi serah terima sistem perpustakaan digital kepada pengelola Sekolah Binekas ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Dokumentasi Serah Terima Sistem Perpustakaan Digital kepada Pengelola Sekolah Binekas

Melalui pengembangan ini, Sekolah Binekas diharapkan dapat memiliki layanan perpustakaan yang lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan pendidikan saat ini. Sistem perpustakaan digital yang sebelumnya telah dikembangkan kini diperkuat dengan teknologi RFID, sehingga proses pengelolaan koleksi dan layanan sirkulasi buku dapat berjalan lebih cepat, tertib, dan akurat.

Program ini menunjukkan bahwa transformasi digital di lingkungan sekolah dasar dapat dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Dimulai dari digitalisasi pengelolaan perpustakaan, kemudian dilanjutkan dengan otomasi layanan berbasis RFID, pengembangan ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk mendukung budaya literasi di sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah juga menjadi bukti bahwa inovasi teknologi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Dengan adanya sistem perpustakaan digital terintegrasi RFID, Sekolah Binekas diharapkan mampu memperkuat budaya membaca, meningkatkan efisiensi pengelolaan perpustakaan, serta menyediakan layanan literasi yang lebih baik bagi siswa. Inovasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung transformasi digital sekolah dasar dan membangun ekosistem pendidikan yang lebih siap menghadapi perkembangan teknologi.